"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'." (Fushshilat: 33)

"Untuk melihat semua artikel, klik judule"
Tampilkan postingan dengan label ETIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETIKA. Tampilkan semua postingan

ETIKA TIDUR

Abu Bakr Jabir al-Jazairi

Orang Muslim berkeyakinan bahwa tidur adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-firman-Nya berikut:
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qashash: 73)
“Dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat.” (An-Naba: 9)

Itu karena istirahat seseorang beberapa jam pada waktu malam setelah seharian bergerak itu membantu kesegaran badan, kelangsungan perkembangan dan aktifitasnya, agar dengan itu semua ia dapat menunaikan tugas yang diciptakan Allah Ta‘ala untuknya.
Mensyukuri nikmat-nikmat itu menghendaki orang Muslim menerapkan etika-etika berikut dalam tidurnya:
Ia tidak menunda tidur setelah shalat Isya’ kecuali untuk keperluan seperti belajar, atau bicara dengan tamu, atau bercumbu dengan istri, karena Abu Barazah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya’, dan ngobrol sesudahnya. (Muttafaq Alaih).
Ia berusaha tidak tidur kecuali dalam keadaan berwudlu, karena Rasulullah saw. bersabda kepada Al-Barra’ bin Azib,
“Jika engkau akan pergi ke tempat tidurmu, hendaklah engkau berwudlu seperti wudhu untuk shalat.” (Muttafaq Alaih).
Ia memulai tidur dengan di atas lambung kanannya (miring ke kanan), berbantal tangan kanannya, dan tidak apa-apa kalau ingin berubah posisi dengan tidur di atas lambung kirinya setelah itu karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw. kepada Al-Barra’ bin Azib, “Jika engkau akan pergi ke tempat tidurmu, hendaklah engkau berwudlu seperti wudhu untuk shalat, kemudian tidurlah d atas lambung kananmu.” (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah saw., “Jika engkau akan pergi ke ranjangmu (tidur) dalam keadaan suci maka dengan tangan kananmu.”

Ia tidak tidur dalam keadaan telungkup, baik tidur di siang hari atau malam hari, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

“Sungguhnya tidur dengan telungkup adalah tidurnya penghuni neraka.”

“Sesungguhnya tidur dengan telungkup ialah tidur yang tidak disukai Allah Azza wa Jalla.”

Ia mengucapkan dzikir-dzikir berikut:

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, dan Allah Mahabesar.”

Ia mengucapkannya tiga puluh tiga kali, kemudian ia berkata, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi Allah kerajaan, dan pujian. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ia berbuat seperti itu, karena Rasulullah SAW. bersabda kepada Ali bin Abu Thalib dan Fathimah yang meminta pembantu kepada beliau, “Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian berdua minta? Kalian berdua hendak tidur, bacalah tasbih sebanyak tiga puluh kali, bacalah hamdalah sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali. Itu semua lebih baik bagi kalian berdua dari pada pembantu. (Diriwayatkan Muslim)

Ia membaca surat Al-Fatihah, lima ayat pertama surat Al-Baqarah, ayat kursi, dan surat Al-Baqarah ayat 284-285, karena itu dianjurkan Rasulullah saw.

Doa terakhir yang dibaca ialah doa berikut yang diriwayatkan dari Rasulullah saw., “Dengan nama-Mu ya Allah, aku letakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya kembali. Ya Allah, jika Engkau menahan jiwaku, ampunilah dia. Dan jika Engkau mengirimnya kembali, jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga orang-orang shalih diantara hamba-hamba-Mu, Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku limpahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan tulang punggungku kepada-Mu. aku meminta ampunan kepada-Mu, aku bertahubat kepada-Mu, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus, ampunilah apa yang telah aku kerjakan apa yang aku umumkan, serta apa saja yang lebih Engkau ketahui daripada aku. Engkau Dzat Yang Maha Terdahulu dan Maha Terakhir. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Tuhanku, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (Diriwayatkan Abu Daud dan lain-lain dengan sanad yang shahih).

Jika ia terbangun di sela-sela tidurnya, ia membaca doa berikut, “Tidaklah ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu . Mahasuci Allah, segala pujian bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.”

Setelah itu, ia bebas berdoa apa saja, karena Rasulullah saw., “Barangsiapa bangun dan tidurnya kemudian ia berkata, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Muhasuci Allah, segala pujian bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali dengan Allah Maha besar, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.’Kemudian ia berkata, Ya Allah ampunilah aku. ‘Atau ia berdoa dengan doa lain, maka doanya dikabulkan. Jika ia berdiri kemudian berwudlu dan shalat maka shalatnya diterima “(Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau ia berdoa dengan doa berikut, “Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Mahasuci. Ya Allah, aku meminta ampunan kepada-Mu atas dosaku, dan meminta rahmat-Mu kepada-Mu. Ya Allah, tambahilah ilmuku, jangan palingkan hatiku setelah engkau memberinya petunjuk, dan beri aku rahmat dari sisi-Mu, karena Engkau Maha Pemberi nikmat.”

Pada pagi harinya, ia membaca dzikir-dzikir berikut:

a. Ketika ia bangun tidur, dan sebelum berdiri dari tempat tidurya, ia membaca, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah sebelumnya mematikan kami dan kami akan kembali kepada-Nya.”

b. Ia hadapkan pandangannya ke langit sambil membaca surat Ali Imran ayat 190-200 jika ia bangun untuk shalat tahajjud, karena Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika aku bermalam di rumah bibiku dari jalur ibu, Maimunah istri Rasulullah SAW., bangun tidur pada pertengahan malam, atau beberapa saat setelah pertengahan malam, kemudlan beliau mengusap tidur dari wajahnya dengan tangannya, membaca sepuluh ayat terakhir, surat Ali Imran, berjalan ke tempat air yang menggantung, berwudlu dengan airnya dengan wudlu yang baik, dan berdiri untuk shalat “(Diriwayatkart Al-Bukhari).

c. Membaca doa berikut sebanyak empat kali, “Ya Allah, aku berada di pagi hari dengan memuji-Mu, disaksikan oleh-Mu, disaksikan oleh malaikat-malaikat pemikul Arasy-Mu, disaksikan oleh malaikat-malaikat-Mu, dan disaksikan oleh semua makhluk-Mu bahwa Engkau Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu.

Ia berdoa seperti itu, karena Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan doa di atas sebanyak sekali maka Allah membebaskan seperempat dirinya dari neraka, barangsiapa mengucapkannya dua kali maka Allah membebaskan setengah dirinya dari neraka, barangsiapa mengucapkannya tiga kali maka Allah membebaskan tiga perempat dirinya dari neraka, dan jika diucapkan empat kali maka Allah membebaskannya total dari neraka.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih).

d. Jika ia meletakkan kakinya di depan pintu kamar untuk keluar, ia berdoa dengan doa berikut, “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

Karena Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang hamba mengucapkan doa di atas, maka dikatakan kepadanya, Engkau telah mendapatkan petunjuk dan dilindungi.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).

e. Jika ja meninggalkan pintu kamar, ia berdoa dengan doa berikut, “Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan sesaatkan, tergelincir dan digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi, bodoh atau dibodohi.”

Karena Ummu Salamah ra berkata, Rasulullah saw. tidak pernah keluar dari rumahku melainkan ia mengangkat pandanganya ke langit sambil berkata, Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan disesatkan.”

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 210-216.

Baca truss...

ETIKA MAKAN MINUM

OLEH : Abu Bakr Jabir al-Jazairi

Orang Muslim melihat makanan dan minuman itu sebagai sarana, dan bukan tujuan. Ia makan dan minum untuk menjaga kesehatan badannya karena dengan badan yang sehat, ia bisa beribadah kepada Allah Ta'ala dengan maksimal. Itulah ibadah yang menyebabkannya memperoleh kemuliaan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia tidak makan minum karena makanan dan minuman, serta syahwat keduanya saja.

Oleh karena itu, jika ia tidak lapar ia tidak makan, dan jika ia tidak kehausan maka ia tidak minum. Rasulullah saw. bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali kami lapar, dan jika kami makan maka kami tidak sampai kekenyangan."

Etika Sebelum Makan

Etika sebelum makan adalah sebagai berikut :


1. Makanan dan minumannya halal, bersih dari kotoran-kotoran haram, dan syubhat, karena Allah Ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian." (Al-Baqarah:172).

Yang dimaksud rizki yang baik ialah halal yang tidak ada kotoran di dalamnya.

2. Ia meniatkan makanan dan minumannya untuk menguatkan ibadahnya kepada Allah Ta‘ala, agar ia diberi pahala karena apa yang ia makan, dan ia minum. Sesuatu yang mubah jika diniatkan dengan baik, maka berubah statusnya menjadi ketaatan dan seorang Muslim diberi pahala karenanya.

3. Ia mencuci kedua tangannya sebelum makan jika keduanya kotor, atau ia tidak dapat memastikan kebersihan keduanya.

4. Ia meletakkan makanannya menyatu di atas tanah, dan tidak di atas meja makan, karena cara tersebut lebih dekat kepada sikap tawadlu', dan karena ucapan Anas bin Malik ra, "Rasulullah saw. pernah makan di atas meja makan atau di piring." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

5. Ia duduk dengan tawadlu dengan duduk berlutut, atau duduk di atas kedua tumitnya, atau menegakkan kaki kanannya dan ia duduk di atas kaki kirinya, seperti duduknya Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. bersabda,

"Aku tidak makan dalam keadaan bersandar, karena aku seorang budak yang makan seperti makannya budak, dan aku duduk seperti duduknya budak." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

6. Menerima makanan yang ada, dan tidak mencacatnya, jika ia tertarik kepadanya maka ia memakannya, dan jika ia tidak tertarik kepadanya maka ia tidak memakannya, karena Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya." (Diriwayatkan Abu Daud).

7. Ia makan bersama orang lain, misalnya dengan tamu, atau istri, atau anak, atau pembantu, karena Rasulullah saw. bersabda,

"Berkumpullah kalian di makanan kalian niscaya kalian diberi keberkahan di dalamnya." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Etika ketika sedang Makan

Di antara etika sedang makan ialah sebagai berikut:

1. Memulai makan dengan mengucapkan basmalah, karena Rasulullah saw. bersabda,

"Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Ta'ala. Jika ia lupa tidak menyebut nama Allah, maka hendaklah ia menyebut nama Allah Ta‘ala pada awalnya dan hendaklah ia berkata, Dengan nama Allah, sejak awal hingga akhir." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

2. Mengakhiri makan dengan memuji Allah Ta‘ala, karena Rasulullah saw. bersabda,

"Barangsiapa makan makanan, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku, dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan upaya dariku', maka dosa-dosa masa lalunya diampuni." (Muttafaq Alaih).

3. Ia makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, mengunyah makanan dengan baik, makan dari makanan yang dekat dengannya (pinggir) dan tidak makan dari tengah piring, karena dalil-dalil berikut

Rasulullah saw. bersabda kepada Umar bin Salamah,

"Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu (pinggir)." (Muttafaq Alaih).

"Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka oleh karena itu, makanlah dari pinggir-pinggirnya, dan janqan makan dari tengahnya." (Muttafaq Alaih).

4. Mengunyah makanan dengan baik, menjilat piring makanannya sebelum mengelapnya dengan kain, atau mencucinya dengan air, karena dalil-dalil berikut:

Rasulullah saw. bersabda,

"Jika salah seorang dari kalian makan makanan, maka ia jangan membersihkan jari-jarinya sebelum ia menjilatnya." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Ucapan Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw. memerintahkan menjilat jari-jari dan piring. Beliau bersabda,

"Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang mana keberkahan itu berada." (Diriwayatkan Muslim).

5. Jika ada makanannya yang jatuh, ia mengambil dan memakannya, karena Rasulullah saw. bersabda,

"Jika sesuap makanan kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membuang kotoran daripadanya, kemudian memakan sesuap makanan tersebut, serta tidak membiarkannya dimakan syetan." (Diriwayatkan Muslim).

6. Tidak meniup makanan yang masih panas, memakannya ketika telah dingin, tidak bernafas di air ketika minum, dan bernafas di luar air hingga tiga kali, karena dalil-dalil berikut:

Hadits Anas bin Malik ra berkata, "Rasulullah saw. bernafas di luar tempat minum hingga tiga kali." (Muttafaq Alaih).

Hadits Abu Said Al-Khudri ra, bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di minuman. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Hadits lbnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di dalam minuman, atau meniup di dalamnya. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

7. Menghindari kenyang yang berlebih-lebihan, karena Rasulullah saw., bersabda,

"Anak Adam tidak mengisi tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Anak Adam itu sudah cukup dengan beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika ia tidak mau (tidak cukup), maka dengan seperti makanan, dan dengan seperti minuman, dan sepertiga yang lain untuk dirinya." (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini hasan).

8. Memberikan makanan atau minuman kepada orang yang paling tua, kemudian memutarnya kepada orang-orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya, dan ia menjadi orang yang terakhir kali mendapatkan jatah minuman, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

"Mulai dengan orang tua. Mulailah dengan orang tua."

Maksudnya, mulailah dengan orang-orang tua.

Rasulullah saw. meminta izin kepada Ibnu Abbas untuk memberi makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau, sebab Ibnu Abbas berada di sebelah kanan beliau, sedang orang-orang tua berada di sebelah kiri beliau. Permintaan izin Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas untuk memberikan makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau itu menunjukkan bahwa orang yang paling berhak terhadap minuman ialah orang yang duduk di sebelah kanan.

Sabda Rasulullah saw.,

"Sebelah kanan, kemudian sebelah kanan." (Muttafaq Alaib).

"Pemberi minuman ialah orang yang paling akhir meminum."

9. Ia tidak memulai makan, atau minum, sedang di ruang pertemuannya terdapat orang yang lebih berhak memulainya, karena usia atau karena kelebihan kedudukannya, karena hal tersebut melanggar etika, dan menyebabkan pelakunya dicap rakus. Salah seorang penyair berkata,

Jika tangan-tangan dijulurkan kepada perbekalan,

Maka aku tidak buru-buru mendahului mereka,

sebab orang yang paling rakus ialah

orang yang paling buru-buru terhadap makanan.

10. Tidak memaksa teman atau tamunya dengan berkata kepadanya, ‘silakan makan', namun ia harus makan dengan etis (santun) sesuai dengan kebutuhannya tanpa merasa malu-malu, atau memaksa diri malu-malu, sebab hal tersebut menyusahkan teman atau tamunya, dan termasuk riya', padahal riya' itu diharamkan.

11. Ramah terhadap temannya ketika makan bersama dengan tidak makan lebih banyak dari porsi temannya, apalagi jika makanan tidak banyak, karena makan banyak dalam kondisi seperti itu termasuk memakan hak (jatah) orang lain.

12. Tidak melihat teman-temannya ketika sedang makan, dan tidak melirik mereka, karena itu bisa membuat malu kepadanya. Ia harus menahan pandangannya terhadap wanita yang makan di sekitarnya, dan tidak mencuri-curi pandangan terhadap mereka, karena hal tersebut menyakiti mereka membuat mereka marah dan ia pun mendapat dosa karena perbuatannya tersebut.

13. Tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Misalnya, ia tidak boleh mengibaskan tangannya di piring, tidak mendekatkan kepalanya ke piring ketika makan agar tidak ada sesuatu yang jatuh dari kepalanya ke piringnya, ketika mengambil roti dengan giginya ia tidak boleh mencelupkan sisanya di dalam piring, dan tidak boleh berkata jorok, sebab hal ini mengganggu salah satu temannya, dan mengganggu seorang Muslim itu haram hukumnya.

14. Jika ia makan bersama orang-orang miskin, ia harus mendahulukan orang miskin tersebut. Jika ia makan bersama saudara-saudaranya, ia tidak ada salahnya bercanda dengan mereka dalam batas-batas yang diperbolehkan. Jika ia makan bersama orang yang berkedudukan, maka ia harus santun, dan hormat terhadap mereka.

Etika Setelah Makan

Di antara etika setelah makan ialah sebagai berikut:

1. Ia berhenti makan sebelum kenyang, karena meniru Rasulullah saw. agar ia tidak jatuh dalam kebinasaan, dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasannya.

2. Ia menjilat tangannya, kemudian mengelapnya, atau mencucinya. Namun mencucinya lebih baik.

3. Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu adalah bagian dari syukur atas nikmat.

4. Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya, dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta‘ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi.

5. Memuji Allah Ta‘ala setelab ia makan, dan minum. Ketika ia minum susu, ia berkata, "Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah rizki-Mu (kepada kami)". Jika berbuka puasa di tempat orang, ia berkata, "Orang-orang yang mengerjakan puasa berbuka puasa di tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian."

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 185-191.

Baca truss...